“Sri
hernawati”
itulah
nama sahabat yang kini duduk di sampingku! Gadis berambut pirang nan lurus itu
kini telah banyak mengisi hari – hariku. Dia bukan seorang bule, namun entah
mengapa aku merasa dia terlalu cantik untuk ukuran orang desa.
Kami
bertemu saat awal pendaftaran SMP , dia duduk di belakangku maka secara alamiah
pun aku mengenalnya. Buat ku dia gadis yang sederhana dan baik hati. Tak pernah
satu kalipun aku mengingat, dia berbuat jahat pada ku. Ya memang sebuah
persahabatan kecil yang manis.
“heh,
kamu liat gag anak yang main voly disana?” dia menjawilku yang sedang asyik
dengan makananku.
“yang
mana?” aku masih melihat makananku
“heh
kamu jangan makan mulu dong...lihatlah itu lho yang lagi pegang bola” dia
menarik kuncir ku
“aah
ribet, mana sih” masih tetap sambil makan
“lihat
kan? Cakep ya?” dia senyum – senyum gag jelas
#gleek....
“hah?”
aku melihat ke arahnya
“kenapa?”
dia nampak heran
“Ardy
na’? kamu yakin masih sehat kan?”
“lah
kenapa?cakep lagi, pinter maen voly” dia melihatku sambil senyum – senyum
“aaah
enakan juga makan sate ojek na” aku pergi meninggalkannya yang masih stay
dibawah pohon.
###
Begitulah
aku dan dia, tak pernah sependapat dalam hal apapun. Dia bilang A, aku bilang
B. Namun bagaimanapun bentuknya, persahabatan ini tetaplah indah. Pernah suatu
hari seorang pedagang keciprut sampai bingung karena kami.
“pokoknya
aku pilih yang di tengah titik!” katanya sambil melotot
“gag
boleh, aku aja , kan aku lebih kecil” aku protes
“tapi
kan kamu lebih gendut”protesnya balik
“kalo
gitu dibagi 2 aja!itu kan ada 3 yang besar, kamu satu, aku satu yang satu di
paro!” kataku menengahi
“hasyah
kalian ini, keciprut satu telenan aja ribet amat!”bapak keciprut mulai jengkel
Kami
tersenyum! Memang begitulah ulah kami. Tak perrnah lelah membuat orang lain
gusar. Kami tetap bersyukur meski kami bukan termasuk murid – murid yang pintar
seperti yang lain.
Bukan
hanya kesenangan itu, lewat dia juga aku belajar bagaimana susahnya untuk
hidup. Dari cerita – cerita nya aku mulai membayangkan sungguh hidupnya tak
seperti apa yang dia tampilkan saat bersama denganku. Di balik senyum itu
terkadang juga ada lara, namun entah mengapa aku rasa dia begitu teramat sangat
pintar menyembunyikan perasaannya.
###
Hari
senin...
I
hate hari senin. Hari dimana aku harus berolah raga adalah hari yang paling aku
benci. Bau encut, tubuh kringetan dan sebainya akan menjadi penyedap hari
senin.
Hari
ini latihan jungkir balik atau lebih kerennya adalah roll depan belakang kanan
kiri. Dan aku hanya mampu mlongo.
“ini
olah raga apa latihan jadi trenggiling sih?” kataku polos dengan kunciran 2 ada
rambutku
“olah
raga dul”jawabnya singkat yang sedari tadi duduk di sampingku
“aku
mana bisa”bisikku
“dicoba
aja nanti”
Aku
terdiam. Menurutku agak aneh olahraga disuruh beginian, setauku yang namanya
olahraga ya jogging,basket,voly dan jajan.
“sri
hernawati”
Guru
itu memanggil namanya, aku sempet deg- degan. Entah apa yang akan terjadi pada
herna setelah ini. Apakan dia akan berguling seperti trenggiling, atau malah
patah leher. Aku diam dan mengamati, namun tak lama aku menutup wajahku dengan
tanganku. Dia mulai mengambil ancang – ancang, dan............ dia berhasil
berguling seperti trenggiling. Nampak sekali pada wajahnya ia sedikit deg –
degan. Tak lama setelah itu dia pun berdiri dan kembali ke tempatnya semula.
“busyet...
ente jadi trenggiling na” kataku amazing
“lah
biasa aja, dulu waktu aku ikut jadi kelompok kethoprak aku sering jungkir balik
kayak gini”
“hah?ente
main gitu juga?” kataku terkejut sambil melihat ke wajahnya
“iya,
kenapa?aneh ya?mau gimana lagi, kadang uang saku ku juga dari sana” dia
menjawab tanpa melihatku
“ente
jadi apa na’, jadi petruknya ya?”
“ente
bagong” dia menyerngit
###
Tak
semangat aku sekolah hari ini. SMP ku berasa neraka pasca kepalaku nancep di
matras waktu latihan roll kemarin, ya aku sama sekali nggak berhasil jadi
trenggiling.
Malas
– malasan aku melangkah ke kelas, tangan kanan ku masih sibuk memijat leher ku.
“patah
non?” sebuah suara muncul di belakangku
“mau
piket dulu jangan di ganggu” jawabku asal – asalan
“nggak
nyambung.. ngeek banget ente” katanya sambil berlalu
“huh
cereweeet, uda tau kemarin kepalaku nancep di matras” aku menoleh jengkel pada
sosok yang tadi mengatai ku patah leher.
Aku
terdiam. Nampak bocah laki – laki yang kemarin di tunjuk si herna duduk di
depan kelasku. Bocah laki – laki yang manis dan berlesung pipi itu kini telah
berada di depanku.
“ngapain
berangkat jam segini dy?”
“piket”
Aku
menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak terasa gatal
“piketmu
kan hari jumat”
“darimana
kamu tahu?” dia melihatku
Aku
mendadak diam. Keceplosan. Dia bisa ge-er setelah ini.
“nganu,
kalo itu.. kan aku itu eemmmm baca di itu jadwal piket” jawabku sekenanya
“kapan
kamu masuk kelasku?” nampak dia tambah kebingungan
“aahh
udah aku mau nyapu, oke!”
Aku
meninggalkannya. Ada perasaan lain yang aku rasakan hari ini.
###
Hari
ini aku pulang sendiri....
Asing
banget berdiri sendiri diantara kakak kelas yang otoriter dan sok cantik itu.
Seandainya aja herna satu arah denganku...
“dor!”
suaranya nampak nggak asing
Aku
menoleh.
“kamu
lagi!kayak setan aja dimana – mana ada kamu!”
“hahaha...
aku sendirian disana!”
“emang
temenmu pada kemana dy?”
“beda
jalur”jawabnya singkat.
Perasaan
aneh kembali bersemayam di dadaku. Ada sesuatu yang nggak biasa ketika dia ada
di deketku. Perasaan yang nyeri dalam hati, namun terasa nikmat untuk
dinikmati.
Sejak
saat itulah aku jatuh hati pada nya. Hampir setengah tahun ini aku habiskan
hanya untuk memikirkannya. Hampir setiap waktu aku habiskan hanya untuk
melihatnya, dan hampir semua kesempatan pulang aku gunakan untuk berjalan
dengannya.
###
Aku
berdiri di sisi jendela dekat meja guru. Dari sanalah aku bisa melihat dengan
bebas lapangan bola voly. Nampak manis melihatnya latihan seperti itu. Meski
antara aku dan dia tak pernah terikrar sebuah ikatan.
“door,
ngapain kamu?”
“lihatin
makhluk-makhluk aneh latihan hehe”
“lehermu
udah sembuh?”
“udah
na”
“aku
mau cerita, tapiiii....”
“cerita
apa” tanyaku sambil memandangi dia yang sedang memberi umpan bola
“aku
suka sama seseorang” dia mengatakannya dengan cepat
“hah”
aku refleks menoleh padanya
“iya...
aku jatuh cinta.. cinta pertama”
“sama
siapa?” tanya ku antusias sambil menariknya duduk di atas meja
“tuuu”
dia menunjuk ke arah lapangan
#degg
“ka-a-mu
suka Ardy?”tanyaku gugup
“i-iya”
dia tersenyum
Aku
diam
“tau
nggak, dia itu punya panggilan special buatku, hihi dia panggil aku sri”
“terus”
aku tersenyum
“iya..
masa katanya ita, dia suka jalan sama ita buat bikin aku cemburu”dia memandang
ke lapangan
Aku
terdiam, ada perasaan yang mengganjal dihatiku. Dan yang benar saja, cinta
pertama kami adalah orang yang sama. Seharusnya aku telah menyadari sebelumnya
kalau herna menaruh hati pada Ardy. Namun tidak perasaan ini dan perhatian Ardy
padaku telah membuatku tanpa sadar menyukainya. Ya cinta pertama yang harusnya
indah jadi seperti ini.
###
“kamu
suka Ardy juga” herna memberiku kertas kecil
“hah?oh
enggak” balasku pada kertas yang sama
“hatimu
sakit ya waktu aku cerita – cerita ardy sama kamu?”
“enggak
na, lagi pula ngapain aku suka sama cowok tengil kayak Ardy?” aku tersenyum
Aku
diam. Ada beribu butiran air mata yang masih tertahan. Jika munafik itu dosa,
untuk kali ini aku ingin berdosa untuk membuat herna tenang dengan cinta pertamanya.
“tapi
kalian akrab banget ya?”dia menulis lagi
“yaa
gitu na, kita kan satu arah, rumahnya juga deket, jadi ya alamiah aja deketnya”
“enggak
ih, dia kayaknya suka kamu, buktinya dulu dia bilang kamu gembul tapi cantik”
“wkwkwk
namanya juga bocah” aku menoleh padanya sambil menahan tawa
#tok
tok...
Nampak
ada suara yang mengetukku dari balik jendela. Dengan cepat aku menoleh. Aku
terdiam, nampak sebuah wajah manis dengan lesung pipi berdiri di balik jendela
kaca.
Aku
mengalihkan pandanganku. Dan tertunduk.
“nay,gak
ada gurunya to?” dia berteriak padaku
“ha?enggak”
jawabku sedikit heran
Dia
berjalan kearahku. Aku Cuma diam.
“pinjem
pensil i..ni” katanya sambil menyomot pensil yang baru aja aku lancipin.
“heeeh
tuyul... milihnya yang itu i. Asem !” kataku refleks
Dia
tersenyum di balik jendela dan meninggalkanku.
“cieh...”
herna memberiku kertas kecil lagi
“bete,
maen srobot aja tu orang”
Sebenarnya
ada rasa bahagia, saat detik itu. Ternyata dia masih mengingatku. Aku pun
tersenyum.
###
Aku
terduduk sendiri di bawah pohon besar di samping kelasku. Angin sepoi – sepoi
siang itu sedikit membuatku nyaman. Begitu banyak yang harus aku lakukan, dan
berpura- puralah yang menjadi topik paling hangat dalam hidupku.
Sedikitpun
aku tak ingin menyakiti hati herna, namun aku juga tak mau sedikitpun
memalingkan wajah untuk Ardy.aku menghembuskan nafas panjangku.
“aku
tahu kamu disini nay” herna duduk disampinku
Aku
tersenyum
“
kita dari dulu tak pernah sehati, tetapi dalam urusan cinta, mengapa kita punya
selera yang sama ya?”dia memandangku
Akupun
memandangnya
“kita
terlalu muda na” aku kembali memandangi pohon besar di depanku
“dan
ini cinta pertama kita”
“cinta
pertama mu na, semua orang juga tahu” jawabku lirih
“hatimu
pasti sakit” dia menghembuskan nafas panjang
“enggak
na’, hidupku nggak Cuma Ardy,milikin kamu aja udah bikin aku seneng”
“apalagi
aku, milikin kamu adalah sebuah mu’jizat”
Aku
menoleh
“nyanyi
aja yuk!” dia mengedipkan mata
“lagu
apa?”
“ku
tak bisa menggapaimu, tak kan pernah bisa”
Aku
menoleh. Lagu itu adalah lagu yang pernah di nyanyikan Ardy. Dan aku tak tahu
pasti herna mengetahuinya ataupun tidak.
“tak
kan pernah bisa” aku tersenyum
Aku
diam. Kemudian memberikan sebuah pensil pada herna.
“lho
apa ini nay?” dia nampak heran
“pensil”
jawabku singkat
Dia
terdiam
“yang
pernah di pinjam Ardy tempo dulu”
Aku
tersenyum.
“kamu
aja yang nyimpen, Cuma ini kan yang kita punya dari Ardy....”
Dia
menerima pensil yang tadi ada digenggamanku.
“nay,
ini udah jadi milikku kan?” herna memandang jauh di depannya
“tentu”
jawabku sambil menghembuskan nafas panjangku
“kalo
gitu, boleh aku hancurkan nggak pensil ini” dia menoleh padaku
Aku
refleks menoleh padanya. Ini adalah satu – satunya barang yang pernah kita
miliki dari Ardy.
“sungguh
aku lebih ingin terus bersamamu dari pada Ardy” katanya lirih
Aku
tersenyum
“ku
tak bisa menggapaimu, tak kan pernah bisa” dia bernyanyi lirih. Nampak sebuah
air mata menetes di pipi lembutnya
“walau
sudah letih aku, tak mungkin lepas lagi” aku memandang wajahnya
“kau
hanya mimpi bagiku”
“tak
untuk jadi nyata” aku menunduk. Dan menghapus air mataku. Sungguh aku tak ingin
sedikitpun nampak sedih dihadapan herna.
“nay..”
“biarkan
ini berjalan seperti ini, entah siapa yang akan bertahan, mungkin dialah yang
terbaik untuk Ardy”
“cinta
pertama bukan yang terakhir kan?” tanyaku padanya
“nay”
dia menoleh kepadaku dengan sisa air mata di wajahnya
“ya
na”
“kalau
nanti kamu lulus, terus kita sekolah di tempat yang berbeda, maukah kamu tetep
jadi sahabatku”
Aku
diam
“maukah
kamu tetap mengingatku meskipun nanti aku tak sejalan lagi denganmu?”
Aku
tetap diam
“maukah
kamu tetap memberiku kabar suatu saat nanti?suatu hari nanti mungkin kita udah
punya telepon genggam”
“kamu
ngomongnya terlalu jauh” aku mengeluarkan sekali lagi nafas panjangku
“hidupku
nggak semulus hidupmu. Mungkin sewaktu-waktu aku bisa jadi non lagi”
Aku
diam
Banyak
dari kehidupannya yang tak begitu aku pahami.
“na’,
buat aku apapun kamu, kamu itu sebagian dari hidupku, kalaupun kita nantinya
berpisah dan lost contact pun kamu bakal selalu ada di hatiku” kataku lirih
Aku
menggenggam tangannya, dan meletakkannya di dadaku.
“disinilah
kamu tinggal, jauh lebih banyak tempat untukmu dari pada untuk ardy, cinta
pertama kita”
“sungguh
aku sayang banget sama kamu nay” dia meneteskan air matanya lagi
“semanis
coklat, eh kita mampu gag ya beli coklat yang besar itu” kataku tiba – tiba
“enakan
keciprut”
Kamipun
tertawa
“eh
kado dari kamu kemarin, kenapa gendut banget burung hantunya?” kataku sambil
menjitak kepalanya
“hihi,
lah kamu kan gendut” dia tertawa
Aku
tersenyum. Dan sungguh aku merasa ada malaikat disampingku. Seseorang yang
benar – benar tak ingin menyakiti perasaanku meskipun harus mengorbankan
perasaannya.
###
Langit
menangis hari ini...
Petir
pun tak henti – hentinya menyambar. Sudah terlalu lama aku membuang waktuku
untuk mengingat seorang sri hernawati.
Setelah
itu aku hampir tak bisa melihatnya lagi. Dia pergi dari kehidupanku, dan sama
sekali tak ada tempatku bertanya dimana dia sekarang.
Aku
masih mengingat satu perkataannya bahwa ia akan terus menggenggam erat
persahabatan kita, meski nyawanya tak tergenggam lagi. Dan aku percaya jauh
disana dia juga selalu merindukan keberadaanku disampingnya.....yah meski kini
kita tak sejalan lagi. Namun yang pasti tuhan kita masih sama, meskipun kita
telah pada jalur yang berbeda...
Aku
merindukanmu, lebih dan lebih banyak dari pada rinduku pada Ardy.....
*)
tidurlah.. selamat malam
*)lupakan
sajalah aku
*)mimpilah
dalam tidurmu
*)bersama
bintang....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar